Sabtu, 22 Februari 2020

Mengenal Hizib

Dalam pengamalan dzikir-dzikir tasawuf, kita mengenal HIZIB. ada beberapa yang terkenal seperti hizib nashr, hizib bahr, hizib magribi, hizib syeh abdul qodir al jailani, hizib nawawi, hizib yamani dan sebagainya
Hizib adalah kumpulan ayat-ayat Al-Quran, zikir, doa dan salawat yang disusun untuk diamalkan dengan membacanya.Tujuan asal Hizib adalah untuk diamalkan agar diri seseorang menjadi dekat dengan Allah dalam arti kata Allah akan meredai orang yang mengamal Hizib tersebut. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut.
Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :
1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.
2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu
3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka
4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. 
5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.
6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :
Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).
Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh. Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut :
Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. 
Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan.
Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam. Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam.
Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam.Wallohu a'lam
Hizb Darul A'la
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
 اللهم يا حىّ يا قـيـوم بك تحـصـنت فاحـمنى بحـماية كفاية وقاية حـقـيـقـة برهان حـرز أمان بِسْمِ اللَّـهِ
 وأدخلنى يا أول يا آخـر مكنون غـيـب سـر دائرة كنز مَا شَاءَ اللَّـهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّـهِ
 وأسبل علىَّ يا حليم يا ستار كنف ستر حجاب صيانة نجاة وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّـه
 وإبن يا محيط يا قادرعلىَّ سـورا من إحاطة مجـد سرادق عـزعـظـمة ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّـهِ
 وأعـذنى يا رقـيب يا مجـيب واحـرسنى فى نفـسى ودينى وولدى وأهلى ومالى بكلاءة إعاذة إغاثة إعانة وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ
 وقـنى يا مانع يا دافع بأسمائك وكلماتك وآياتك شـر الشيطان والسلطان فإن ظالم أو جبار بغى علي أخذته غَاشِيَةٌ مِّنْ عَذَابِ اللَّـهِ
 ونجـنى يامذل يا منتقـم من عـبيدك الظالمين الباغـين علىَّ وأعـوانهم فإن هم لي أحـد منهم بسـوء خـذله الله وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّـهِ
 واكفنى يا قابض يا قهار خـديعـة مكـرهم وارددهم عـنىِ مذمومين مذءومين مدحـورين بتخــسـير تغـييـر تدمير فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّـهِ
 وأذقنى يا سـبـوح يا قـدوس لذة مناجاة أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ فى كنف الله
 وأذقهم يا ضار يا مميت نكال وبال زوال فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ
 وآمنى يا سلام يا مؤمن صولة جـولة دولة الأعـداء بغاية بداية آية لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّـهِ
 وتوجـنى يا عـظـيم يا معـز بتاج كبرياء سلطان ملكـوت عـز عـظـمة وَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ
 وألبسنى ياجليل ياكبير خـلعـة إجـلال إكمال إقبال فلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّـهِ
 وألق يا عـزيز يا ودود علىَّ محـبة منك فتنقاد وتخـضع لى قلوب عـبادك بالمحـبة والمعـزة والمودة من تعـطيف تلطيف يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّـهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّـهِ
 وأظـهـر اللهم علىَّ يا ظاهـر ياباطن آثار أسـرار أنوار يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ
 ووجـه اللهم ياصمد يا نور وجهى بصفاء جـلال جـمال إشـراق فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّـهِ
 وجـملنى يا بديع السموات والأرض يا ذا الجـلال والإكـرام بالفـصاحة والبراعة والبلاغة وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي برأفة رقة ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ
 وقـلـدنى يا شـديد البطـش يا جـبار بسـيـف الهيبة والـشـدة والقـوة والمنعـة من بأس جـبـروت عـزة ومَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّـهِ
 وأدم علىَّ يا باسـط يا فـتاح بهـجـة مـسـرة رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي بلطائف عـواطـف أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ وببـشـارة إشـارة وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللَّـهِ
 وأنزل اللهم يا لطـيـف يارءوف بقـلبى الإيمان والإطمئنان والسكينة لأكون من الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ
 وأفـرغ علىَّ يا صـبـور يا شكـور صـبر الذين تدرعـوا بثبات يقين تمكين كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّـهِ
 واحـفـظـنى يا حـفـيـظ يا وكيل من بين يدى ومن خلفى وعن يمينى وعـن شمالى ومن فـوقى ومن تحـتى بوجـود شهـود جـنود لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّـهِ
 وثبت اللهم يا قائم يا دائم قـدمى كما ثبت القائل وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللَّـهِ
 وانصـرنى يا نعـم المولى ويا نعـم الـنـصـيـر نصـر الذي قـيل له أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّـهِ
 وأيدنى يا طالب يا غالب بتأييد نبيك محـمـد صلى الله عـليه وسلم المؤيد بتعـزيز توقـير إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِّتُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ
 واكفنى يا كافى الأسـواء يا شافى الأدواء بعـوائد فـوائد لَوْ أَنزَلْنَا هَـٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّـهِ
 وامنن علي يا وهاب يا رزاق بحـصـول وصـول قـبـول تـيـســيـر تدبيـر تـسـخـيـر كُلُوا وَاشْرَبُوا مِن رِّزْقِ اللَّـهِ
 وألزمنى يا واحـد يا أحـد كلمة التوحـيـد كما ألزمت حبيبك فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ
 وتولنى يا ولىّ ياعلىّ بالولاية والعـناية والرعاية والسلامة بمزيد إيراد إسعاد إمداد ذَٰلِكَ مِن فَضْلِ اللَّـهِ
 وأكرمنى يا كريم يا غـنىّ بالسعادة والسيادة والكرامة والمغـفـرة كما أكرمت الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِندَ رَسُولِ اللَّـهِ
 وتب علىَّ يا تواب يا حليم توبة نصوحا لأكون من الَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّـهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّـهُ
 واختم لي يا رحمن يا رحيم بحسن خاتمة الناجين والراجين يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّـهِ
 واسكنى ياسميع يا قريب جَنَّةِ عَدْنٍ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّـهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّـهِ
 يَا الله يَا الله يَا الله يَا الله
 يَا نَافِعُ يَا نَافِعُ يَا نَافِعُ يَا نَافِعُ
 يَا رَّحْمَـٰنُ يَا رَّحْمَـٰنُ يَا رَّحْمَـٰنُ يَا رَّحْمَـٰنُ
 يَا رَّحِيمُ يَا رَّحِيمُ يَا رَّحِيمُ يَا رَّحِيمُ
 أسالك بحـرمة هذه الأسماء والآيات والكلمات سلطانا نصيرا ورزقا كثيرا وقلبا قريرا وعلما غزيرا وعملا بريرا وقبرا منيرا وحسابا يسيرا وملكا في الفردوس كبيرا وصلِّ الله على سيدنا محمد النبى الأمى وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
والحمد لله رب العالمين. 
Hizib Khofi
لبِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ بِخَفِى لُطْفِى اللّٰهِ وَبِللَطِيْفِ صُنْعِ اللّٰهِ  
وَبِجَمِيْلِ سِتْرِاللّٰهِ دَخَلْتُ فِى كَنَافِى اللّٰهِ وَتَشَفَّعْتُ بِنُوْرِسَيِّدِنَامُحَمَّدٍصَلَّى
 اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، بِدَاوَمِ مُلْكِ اللّٰهِ بِلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَإِلَّابِاللّٰهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمُ، بِيَاهٍ٣ اُهَيْلٍ٣ أَهْيَاشٍ٣ حَجَبْتُ نَفْسِى بِحِجَابِ اللّٰهِ وَمَنَعْتُهَابِاَيَاتِ اللّٰهِ وَبِالْاَيَاتِ الْبَيِّنٰتِ بِحَقِّ مَنْ يُحْىِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمُ جِبْرِيْلُ عَنْ يَمِيْنِى وَإِسْرَافِيْلُ مِنْ خَلْفِى وَمِيْكَاءِيْلُ عَنْ يَسَارِىْ وَسَيِّدُنَامُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، أَمَامِى وَعَصٰى مُوْسٰى فِى يَدِىْ فَمَنْ رَأَنِى هَباَنِىْ وَخَتَمُ سُلَيْمَانَ عَلَى لِسَانِى وَمَنْ تَكَلَّمْتُ مَعَهُ قَضٰى حَاجَتِى وَنُوْرُيُوْسُفَ عَلٰى وَجْهِى فَمَنْ رَأَنِى أَحَبَّنِى وَاللّٰهُ مِنْ وَرَآءِهِمْ مُحِيْطٌ بَلْ هُوَقُرْأٰنٌ مَجِيْدٌ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظْ. لبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَاللّٰهُ لَطِيْفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُبِغَيْرِحِسَابْ
Adapun Hizib lainnya pernah saya tulis..... silakan dicari aja n amalkan sesuai Syariat yang ada ‎

Hizib Wali Quthub Aljilani


Jumlah karomah yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani banyak sekali:
Syaikh Abil Abbas Ahmad ibn Muhammadd ibn Ahmad al-Urasyi al-Jily: berkata 
Pada suatu hari, aku telah menghadiri majlis asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan asy-Syaikh. Maka orang ramai yang hadir di majlis itu pun berlari tunggang langgang, ketakutan. Tetapi asy-Syaikh al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju asy-Syaikh dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, asy-Syaikh masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya.
Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan asy-Syaikh dan ia telah seperti bicara dengan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani . Setelah itu, ular itu pun ghaib.
Kami pun bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani tentang apa yang telah dipertuturkan oleh ular itu. Menurut beliau ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji wali-wali Allah yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani .
Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majlis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majlis itu. Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun berkata, “Wahai angin, ambil kepala burung itu.” Seketika itu juga, burung itu telah jatuh ke atas majlis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya.
Setelah melihat keadaan burung itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya. Kemudian asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah berkata, “Bismillaahirrahmaanirrahim.” Dengan serta-merta burung itu telah hidup kembali dan terus terbang dari tangan asy-Syaikh.
Maka takjublah para hadirin di majlis itu karena melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkanNya melalui tangan asy-Syaikh.
Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Jilani, berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.
Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.
“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”
Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang cuba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya.
Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”
Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”
Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.
Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”
Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala.
Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.
Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani boleh melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”
Telah bercerita asy-Syaikh Abi ‘Umar ‘Uthman dan asy-Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Haqq al-Huraimy:
Pada 3 hari bulan Safar, kami berada di sisi asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani Pada waktu itu, asy-Syaikh sedang mengambil wudu dan memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan solat dua rakaat, dia telah bertempik dengan tiba-tiba, dan telah melemparkan salah satu dari terompah-terompah itu dengan sekuat tenaga sampai tak nampak lagi oleh mata. Selepas itu, dia telah bertempik sekali lagi, lalu melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ, telah melihat dengan ketakjubannya, tetapi tidak ada seorang pun yang telah berani menanyakan maksud semua itu.
Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk menziarahi asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilany. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) telah membawa hadiah-hadiah untuknya, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Apabila kami amat-amati, kami lihat terompah-terompah itu adalah terompah-terompah yang pernah dipakai oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pada satu masa dahulu. Kami pun bertanya kepada ahli-ahli kafilah itu, dari manakah datangnya sepasang terompah itu. Inilah cerita mereka:
Pada 3 haribulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami telah diserang oleh satu kumpulan perompak. Mereka telah merampas kesemua barang-barang kami dan telah membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka.
Kami pun berbincang sesama sendiri dan telah mencapai satu keputusan. Kami lalu menyeru asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami sudah selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah.
Tiba-tiba, kami terdengar satu jeritan yang amat kuat, sehingga menggegarkan lembah itu dan kami lihat di udara ada satu benda yang sedang melayang dengan sangat laju sekali. Beberapa waktu kemudian, terdengar satu lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seumpama tadi yang sedang melayang ke arah yang sama.
Selepas itu, kami telah melihat perompak-perompak itu berlari lintang-pukang dari tempat mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan itu dan telah meminta kami mengambil balik harta kami, karena mereka telah ditimpa satu kecelakaan. Kami pun pergi ke tempat itu. Kami lihat kedua orang pemimpin perompak itu telah mati. Di sisi mereka pula, ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu.
Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:
Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.
Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.
Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.
Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.
Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.
Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.
Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.
Apakah Hizib itu?
Hizib yang mengandung fadhilah dan khasiat yang luar biasa ini adalah kumpulan ayat-ayat Alqur'an, dzikir dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai wali­yullah (Kekasih Allah), hanya saja yang membedakan setiap hizib antara lain asrar yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang sesuai dengan karakter Wali sang penyusun.
Sementara, kandungan dalam hizib terdapat banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terka­dang seperti tidak terkait dengan rang­kaian doa sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak ismul a'zham (asma Allah yang agung) yaitu nama Allah seperti yang terkandung diantara "KAf dan NUN".
Dengan kata lain, hijib yang terbentuk bukan saja atas keinginan para wali saja namun yang diterima dari Rasululloh langsung dan diterima dari Ilham Allah SWT.
Oleh para Awliya hizib disusun dan dirancang ada yang untuk konsumsi umum  sehingga semua orang boleh meng­amalkannya untuk memperkuat benteng diri dan sebagainya. Ada juga yang dirancang untuk kalangan tertentu yang dianggap memiliki kemampuan lebih dari yang lain.  
Mengamalkan suatu hizib tidak terlepas dari cobaan atau ujian (ada efek negatif), biasanya cobaannya itu ada yang berbentuk kedigjayaan atau kesaktian berbukti (menonjol), kemarahannya berlebihan atau rezekinya seret dan sebagainya. Semua cobaan itu akan membuat kita sombong atau minder. Makanya ketika kita memulai mengamalkan hizib harus lebih ikhlas dan sepenuhnya berserah diri pada Allah agar kita mampu menghadapi semua cobaan yang datang.
Berikut ini saya menukilkan sebuah hizib yang disusun oleh Syekh Abdul Qadir jailani yang memiliki khasiat antara lain sebagai berikut:
Dikasihi dan dicintai makhluk
Diberikan ketentraman dalam rumah tangga
Disenangi dalam pergaulan
Mendapatkan kesaktian/kedigjayaan
Diberikan Allah rezeki yang berlimpah
Mendapat perlindungan harta bendanya
Mendapat kecukupan barokah, karomah, fadhal.
Senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT
Wasilah Hizib jailani:
1. Ilaa hadhratin nabiyyil mushthafaa muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallama, Al-faatihah...(baca surat al-fatihah 1x)..
2. Wa-ilaa hadhratisy syaikh Muhyiddiin abdil Qaadiril jailaanil baghdaadii, Al-faatihah...(baca surat al-fatihah 1x)...
3. Wa-ilaa ruuhi man ajaazanii, Al-fatihah...(baca surat alfatihah 1x)...
بسم الله الرّحمن الرّحيم
ربّ انّى مغلوب فانتصر, واجبرقلبي المنكسر, واجمع شملي المندثر, انّك انت الرّحمن المقتدر, اكفنى ياكافى واناالعبدالمفتقر, وكفى بالله وليّا وكفى بالله نصيرا, انّ الشّرك لظلم عظيم, وماالله يريدظلماللعباد, فقطع دابرالقوم الّدين ظلموا, والحمد الله ربّ العالمين
 “Wahai Tuhanku sungguh aku telah kalah (oleh hawa nafsuku), maka bahagiakanlah hati yang telah musnah ini (dengan rasa syukur atas nikmat yang sedang dan akan terjadi), maka padukanlah kemuliaan yang terselubung. Cukupilah segala kebutuhanku, dan aku adalah hamba yang membutuhkan bantuan-Mu. Dan cukuplah Allah saja sebagai yang diandalkan dan cukup Allah saja sebagai penolong. Sesungguhnya syirik kepada-Mu adalah kejahatan yang besar, dan tidaklah menginginkan Allah kejahatan dan kegelapan bagi hamba-hambanya (sebaliknya Allah menginginkan hamba-hambanya menjadi  khalifah di muka bumi ini dengan sukses). Maka putuslah tipu daya kaum jahat. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
Caranya:
Puasa 3 hari dimulai pada hari selasa, rabu dan kamis.
Selama puasa hizib jailani dibaca sebanyak 70x
Pada malam jum'at setelah buka puasa tidak boleh tidur semalaman.
Sesudah tammat puasa, hizib diwirid setelah sholat maghrib dan isya dibaca sebanyak 7x 
 
Doa diatas mungkin bagi sebagian orang tidaklah asing, minimal pernah mendengar, terlebih bagi orang yang pernah ‘mondok’ di pesantren-pesantren salafiyah atau pesantren yang lebih dikenal pesantren tradisional yang pembelajaranya menggunakan ‘kitab kuning’. Walaupun begitu tidak semua santri-santri diberi ‘ijazahkan’ doa/hizib ini, hanya santri-santri yang sudah dewasa dan sebentar lagi akan terjun ke masyarakat untuk menjadi panutan bagi masyarakatlah yang diberi bekal doa/hizib ini. Doa/hizib diatas sering disebut Hizib Jailani atau Hizib Syekh Abdul Qodir Jailani Al-Baghdady.
Hizib Jailani adalah salah satu doa yang dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan perantara(washilah) kepada pengarangnya, yaitu Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdady. Berdoa dengan cara bertawasul seperti ini telah dicotohkan nabi, sahabat, dan orang-orang shaleh pada zaman dahulu. Banyak sekali dalil-dalil, baik dari Al-Quran maupun hadis, yang memperbolehkan berdoa dengan cara bertawasul.
Dalam tulisan ini, saya ingin sedikin Share kepada para pembaca tulisan ini yang mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dunia akhirat. Tulisan ini bersumber dari pengetahuan saya yang sangat bodoh ini, pengalaman pribadi saya dan dari buku-buku yang pernah saya baca. Tujuan dari tulisan ini tidak lain hanya sebagai curhatan saya dan self-motivation aza…
Oke, kita kembali kepada Judul yang penulis buat. Setelah menerangkan secara ringkas mengenai pengertian hizib, sekarang bagian kata ilmiyah. Katailmiyah kalau disederhanakan mah boleh dibilang masuk akal, bisa diukur, dan berlaku secara umum. Di zaman sekarang yang serba canggih, masalah-masalah yang bisa dibilang ajaib sudah di teliti oleh beberapa peneliti, termasuk masalah spiritualitas yang akan kita bahas. Titik temu antara spiritual dengan keilmiyahan adalah dalam hal ‘kesadaran’. Menurut Amit Goswami P.hD bahwa “ilmu pengetahuan modern akhirnya sepakat dengan pandangan spiritual bahwa kesadaran (yang tidak tampak) adalah penyebab dari semua ciptaan (yang tampak)”. “Keajaiban bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam, tetapi sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman kita tentang hukum alam itu”, begitulah pendapat dari St. Augustine. 
Kita mulai pembahasannya yuk, tapi seblumnya bukalah hati anda dan fikiran kita, ini adalah masalah logika hati dan logika fikiran. Masalah logika hati vs logika fikiran saya gak akan bahas disini (ngayayay teuing) tapi saya akan mengutip pernyataan dari ilmuwan terkenal  yaitu Blaise Pascal, katanya hati memiliki logika yang tidak mampu dipahami oleh akal fikiran.
Dalam buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, dijelaskan bahwa rahasia doa agar efektif harus memenuhi tiga tahapan, tapi ketiga tahapan itu dilakukan secara bersamaan ketika kita berdoa. Tahapan DOA itu adalah Direction, Obedience, dan Acceptance. Dalam berdoa dengan tawasul menggunakan Hizib Jailany juga tahap-tahap ini perlu diterapkan.
1.      Direction (Meminta dengan niat yang jelas)
“… Aku dekat…. Aku mengabulkan permohonan yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku”
Pernyataan diatas bukan pernyataan sembarang lho, itu pernyataan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Serba Maha, yaitu Allah SWT. Itu adalah jaminan dari Allah sendiri sedangkan Allah tidak akan mengingkari janjinya. Coba bayangkan dokter mana yang dapat menjamin kesembuhan pasiennya, atau dukun mana yang bisa menjamin keinginan tamu-tamunya, gak ada kan.. tapi hanya Allah lah yang berani menjamin hal tersebut, oleh karena itu serahkanlah semua urusan dan permintaan kita kepada  Allah Yang Maha Kuasa, seperti penyerahan  dalam Hizib jailany diatas, kaffa billahi waliyya wakafabilllahi nashiro(cukuplah Allah saja sebagai yang diandalkan dan cukuplah Allah sebagai sebagai penolongku).
Keikhlasan (menyerahkan semua urusan kepada Allah) dalam tahap Direction ini bertujuan agar semua getaran negatif yang menghambat doa kita dapat terkikis. Ketika kita ikhlas maka alam vibrasi melalui mekanisme kuantum akan berkolaborasi membantu mewujudkan niat-niat Anda. Hal ini sesuai dengan kenyataan pada level kuantum menyatakan bawasemakin dalam, semakin halus, maka semakin dahsyat. Analoginya dalam fisika kuantum misalnya energi nuklir yang lebih halus berjuta-juta kali lebih powerful daripada energi kimia, energi otot lebih kuat dari energi fikiran. Sehingga energi ikhlas yang sangat halus yang berada dihati terdalam pun akan lebih dahsyat daripada energi emosi atau energi fikiran.
Selain itu, dalam tahap Direction ini juga permintaan kita harus FOKUS. Coba lihat lagi firman Allah diatas, Allah mengabulkan hanya orang orang yang HANYA meminta dengan fokus kepadanya. Banyak orang yang bertanya, kenapa harus repot-repot fokus kepada apa yang kita inginkan, toh Allah Maha Tahu segala permasalahan kita?? Emmm oke saya jawab, memang Allah itu Maha Tahu, yang jadi permasalahan apakah kita tahu apa yang kita inginkan tidak heuhh. Allah itu maha pemberi bukan Maha Pemaksa. Allah hanya mengabulkan doa-doa yang kita minta, jadi mintalah dengan fokus sesuai keinginan kita.
Fokuslah kepada apa yang kita inginkan, bukan berfokus kepada apa yang kita TIDAK inginkan. Jika kita ingin kaya, maka fokuslah kepada keberlimpahan..
Jika kita ingin bahagia, fokuslah kepada kebahagiaan..
Jika anda ingin sehat fokuslah kepada kesehatan…
Jika kita ingin jodoh , maka fokuslah kepada…………. (hahaaydeuhh..)
2.      Obdience (Meyakini hati bahwa doa sudah terkabul) 
Meyakini hati bawa doa sudah/akan dikabulkan berkorelasi positif dengan pengabulan doa tersebut.“Allah seperti perasangka hamba-hambanya”, begitulah Allah berfirman dalam hadis qudsi, jika seorang hamba meyakini bahwa doanya dikabulkan fainsyaallah doanya dikabulkan, akan tetapi jika hamba meyakini bahwa doanya ditolak maka Allah akan bertindak seperti perasangka hamba tersebut.
Allah SELALU mengabulkan doa setiap manusia yang ada di HATInya, bukan hanya yang terucap oleh lisannya saja. Jika ada konflik antara lisan dan hati, maka yang menang adalah yang ada di hati. Sebagai contoh jika seorang yang miskin berdo meminta agar menjadi kaya, secara lisan ia memohon agar menjadi kaya tetapi dalam hatinya ia tidak yakin bisa menjadi kaya, maka hasilnya adalah ia akan SELALU miskin.
Jika dilihat dari doa yang kita panjatkan yaitu berupa Hizib jailany, doa ini telah masyhur di kalangan para ulama, kiyai, ustadz, maupun ahli spiritual, bahwa doa ini sangat dahsyat dalam mencapai suatu hajat kebutuhan. Doa ini menggunakan tawasul kepada pengarangnya yaitu seorang waliyullah bahkan menurut sebagian para ulama rajanya para wali, yaitu Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdady, yang mempunyai banyak karomah dan derajatnya dekat dengan Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini bisa menjadi sarana kita untuk meyakinkan hati bahwa dengan pertolongan Allah kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan/inginkan.
Keyakinan adalah salah satu kunci dari spiritualitas dan kunci dari segala kesuksesan. Setiap orang yang sukses di dunia ini pasti diawali dengan sebuah keyakinan sehingga mereka lebih optimis dan termotivasi dalam bekerja. Jika kita telah meyakini sesuatu hal, pasti kita akan mendukung keyakinan tersebut, dan jika keyakinan kita itu benar terjadi, keyakinan kita akan semakin kuat. Kekuatan keyakinan yang pasti berpengaruh pada hasil akhir ini dapat saya gambarkan sebagai berikut;
KEYAKINAN
POTENSI
TINDAKAN TERILHAMI
HASIL
 
 Sebagai contoh, jika kita diminta untuk berpidato di depan khalayak umum, maka langkah pertama kita harus yakin bahwa sudah memiliki berbagai informasi mengenai topik yang akan kita bawakan. Hal tersebut akan memantapkan keyakinan kita pada kemampuan diri sendiri untuk memberikan pidato yang bagus, dan itu pasti akan mengeluarkan potensi terbaik kita sehingga merangsang tindakan kita untuk menampilkan yang terbaik, dan otomatis hasilnya pun akan baik dan akan menambah keyakinan kita untuk berpidato kembali dengan baik. Siklus ini selalu berputar terus menerus secara otomatis. Jika keyakinan awal kita tinggi, hal ini akan menjadi sebuah ‘Mata Rantai Kesuksesan’.
3.      Acceptance (Menerima perasaan dan tindakan terkabulnya doa) 
Tahap terakhir ini merupakan tahap yang paling dahsyat, tahap ini adalah tahap yang mudah sekaligus paling sulit dilakukan, khususnya bagi mereka yang terlalu rasional dan analitis (dominan otak kiri. Red). Dalam tahap ini kita merasa bersyukur dan bahagia kita membayangkan bahwa doa kita sudah atau sedang dikabulkan oleh Allah. Dengan kata lain, kita seolah-olah benar melihat, mendengar, dan merasakan sepenuh hati bahwa wujud yang kita inginkan telah terwujud. Ini sangat menyenangkan sekali, seperti kita sudah melunasi pembayaran (Syukur) di muka, meskipun (doa) kita belum terkabul. Selain itu lakukan “Tindakan” yang perlu kita lakukan untuk membangun perasaan menerimanya pada saat sekarang, dan ingat-ingat perasaan itu.
Secara ilmiyah, ternyata semua benda adalah 99,9999999% merupakan cahaya stabil yang memadat pada titik nol, cahaya tersebut memiliki energi yang bergetar disebut frekuensi. Pengertian ini adalah kunci untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Kita adalah sebuah medan energi yang beroperasi di medan energi yang lebih besar, dan energi yang kita butuhkan ada di Medan Titik Nol di sekeliling kita saat ini juga. Fisika Kuantum mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu datang diri medan titik nol. Satu-satunya perbedaan antara tubuh kita dan Uang, rumah, orang, dan sebagainya adalah frekuensi getarannya. Jadi KUNCInya adalah: Jika kita Ingin menarik hasil baru dibidang apapun, Anda adalah hasil baru tersebut!, yang harus kita lakukan adalah bertindak menjadi selaras atau harmonis dengannya.
Tindakan adalah kata yang bagi sebagian orang berarti “kerja”, tetapi tindakan yang terilhami sama sekali tidak akan terasa sebagai pekerjaan. Tindakan terilhami adalah ketika kita bertindak untuk menerima, jika kita bertindak untuk berusaha dan membuatnya terwujud maka kita sudah tergelincir ke belakang. Tindakan yang terilhami akan ringan dan terasa menyenangkan karena kita berada dalam frekuensi menerima. 
 Tindakan terilhami ini bukan berarti kita pasrah tanpa gairah hidup, justru tindakan terilhami ini merupakan bertindak dengan berperasangka baik kepada Allah bahwa Allah sedang mencurahkan “ilhamnya” kepada kita untuk mewujudkan doa dalam dunia nyata sehingga kita bersyukur dan “tersenyum” optimis. Kadang-kadang kita bahkan tidak menyadari bahwa kita telah menggunakan “tindakan” karena terasa menyenangkan. Pada saat itu Anda akan menengok ke belakang melihat keajaiban bagaimana Allah telah ‘menggendong’ kita menuju impian… wowwww dan ucapkanlah Alhamdulilllah.
Dalam sebuah tindakan juga faktor “Fikiran Bawah Sadar”, yang mengendalikan semua gerak kita baik yang sadar maupun yang tidak sadar, sangatlah penting. Fikiran bawah sadar berperan penting dalam membentuk karakter, kepribadian, dan citra diri seorang manusia, sehingga dengan memanfaatkan fungsi ini kita bisa  menambah energi kita dalam aktivitas sehari-hari. Dalam memrogram fikiran bawah sadar, kita bisa melakukan tahap-tahap seperti diatas, serta melakukan tindakan yang bersesuaian dengan niat kita.

Hizib kaum Syadziliyyah


Hizib Ikhfak 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِحْتَجَبْتُ بِنُورِ اللهِ الدَّائِمِ الْكَامِلِ, وَتَحَصَّنْتُ بِحِصْنِ اللهِ الْقَوِيِّ الشَّامِلِ, وَرَمَيْتُ مَنْ بَغَى عَلَىَّ بِسَهْمِ اللهِ وَسَيْفِهِ الْقَاتِلِ,
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Ihtajabtu binuu-rillaahid-daa-imil kaamil. Watahash-shantu bi hishnillaahil-qawiyyis-syaamil. Waramaitu man baghaa ‘alayya bisahmillaahi wasaifihil qaatil. 
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Aku bersembunyi (berlindung) di balik nur Allah yang selalu sempurna. Aku berbenteng dengan benteng Allah yang kuat lagi meliputi/memuat; aku melempar orang yang berbuat jahat kepadaku dengan panah dan pedang Allah yang mematikan.
اَللَّهُمَّ يَاغَالِبًا عَلَى أَمْرِهِ, وَيَاقَائِمًا فَوْقَ خَلْقِهِ, وَيَاحَائِلاً بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ, حُلْ بَيْنِى وَبَيْنَ الشَّيْطَانِ وَنَزْغِهِ, وَبَيْنَ مَالاَ طَاقَةَ لِى بِهِ مِنْ خَلْقِكَ أَجْمَعِيْنَ. 
Alloohumma yaa ghaaliban ‘alaa amrih, wayaa qaa-iman fauqa khalqih, wayaa haa-ilan bainal mar-i waqalbih. Hul bainii wabainas-syaithaani wanazghih, wabaina maa laa thaaqata lii bihii min khalqika ajma’iin. 
Ya Allah! Wahai Dzat Yang mengatasi urusan-Nya. Wahai Dzat Yang Berdiri (Mengurusi) diatas makhluk-Nya. Wahai Dzat Yang menjadi Pemisah antara seseorang dengan hatinya. Pisahkan antara aku dan syetan beserta godaannya, (antara aku) dan dari semua makhluk-Mu yang tidak ada kemampuan buatku untuk mengatasinya.
اَللَّهُمَّ كُفَّ عَنِّى أَلْسِنَتَهُمْ, وَ اغْلُلْ  أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَارْبُطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ, وَاجْعَلْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ  سَدًّا مِنْ نُورِ عَظَمَتِكَ, وَحِجَابًا مِنْ قُوَّتِكَ, وَجُنْدًا مِنْ سُلْطَانِكَ, إِنَّكَ حَيٌّ قَادِرٌ مُقْتَدِرٌ قَهَّارٌ.
Alloohumma kuffa ‘annii alsinatahum, waghlul aidiyahum wa-arjulahum, warbuth ‘alaa quluubihim, waj’al bainii  wabai-nahum saddan min nuuri ‘azhamatik, wahijaaban min quwwatik, wajundan min sulthaanik, innaka hayyun qaadirun muqtadirun qahhaar. 
Ya Allah! Jauhkanlah dariku lisan-lisan mereka; kuncilah tangan-tangan dan kaki-kaki mereka; ikatlah hati mereka’ jadikan antara aku dan mereka tirai dari Nur Keagungan-Mu, tabir dari Kekuatan-Mu dan tentara dari Kesultanan-Mu, karena sebenarnya Engkau Maha Hidup Abadi, Kuasa, Berkuasa/mampu, lagi Pemaksa.
اَللَّهُمَّ أَغْشِ عَنِّى أَبْصَارَ اْلأَشْرَارِ وَالظَّلَمَةِ حَتَّى لاَ أُبَالِى بِأَبْصَارِهِمْ.
Alloo-humma aghsyi ‘annii abshaaral asyraari wazh-zhalamati hattaa laa ubaalii bi-abshaarihim. 
Ya Allah! Tutupi (butakan) dariku mata orang-orang yang jahat dan zhalim, sehingga aku tidak (begitu) mempedulikan mata mereka.
يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأَبْصَارِ. يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِلاولِي الأَبْصَارِ.
Yakaadu sanaa barqihii yadzhabu bil-abshaar yuqallibulloohul laila wan-nahaara inna fii dzaa-lika la’ibratan li-ulil abshaar. 
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara  Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. 
بِسْمِ اللَّهِ كهيعص . بِسْمِ اللَّهِ حمعسق. كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيْمًا تَدْرُوهُ الرِّيَاحِ. هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ. يَوْمَ اْلاَزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلاَ شَفِيعٍ يُطَاعُ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ. فَلاَ أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ, الْجَوَارِ الْكُنَّسِ, وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ.  ص وَالْقُرْءَانِ ذِي الذِّكْرِ. بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ.
Bismillaah, Kaaf Haa Yaa ‘Aiin Shaad. Bismillaah, Haa miim ‘aiin siin qaaf. Kamaa-in anzalnaahu minas-samaa-i fakhtalatha bihii nabaatul ardhi fa-ashbaha hasyiiman tadzruuhur-riyaah.  
Huwal-loohulladzii laa ilaaha illaa huwa ‘aalimul ghaibi was-syahaadati huwar-rahmaanur-rahiim.  Yau-mal aazifati idzil quluubu ladal hanaajiri kaazhimiina maa lizh-zhaalimiina min hamiimin walaa syafii’in yuthaa’. ‘Alimat nafsun maa ahdharat. Falaa uqsimu bilkhunnasil jawaaril kunnasi, wal-laili idzaa ‘as’asa, wash-shub-hi idzaa tanaffas.  Shaad. Walqur-aani dzidz-dzikr, balilla-dziina kafaruu fii ‘izzatin wasyiqaaq.
Dengan menyebut asma’ Allah, Kaaf haa yaa ‘aiin shaad. Dengan menyebut asma’ Allah, haa miim ‘aiin siin qaaf.
Seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. 
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 
... hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa`at yang diterima syafa`atnya. 
Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.
Shaad, demi Al Qur'an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. 
 شَاهَتِ الْوُجُوهِ ( 3 × ),وَعَمِيَتِ الأَبْصَارُ, وَكَلَّتِ اْلأَلْسُنُ, وَوَجِلَتِ الْقُلُوبُ, جَعَلْتُ خَيْرَهُمْ بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ وَشَرَّهُمْ تَحْتَ أَقْدَامِهِمْ, وَخَاتَمَ سُلَيْمَانَ بَيْنَ أَكْتَافِهِمْ, لاَ يَسْمَعُونَ وَلاَ يُبْصِرُونَ وَلاَ يَنْطِقُونَ بِحَقِّ  كهيعص.
Syaahatil wujuuh (Dibaca 3 x).
Wa’amiyatil abshaar, wakallatil alsun, wa wajilatil quluub. Ja’altu khairahum baina a’yunihim, wasyarrahum tahta aqdaamihim, wakhaatama sulaimaana baina aktaafihim, laa yasma’uuna walaa yubshiruuna walaa yanthiquuna bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad.
Buruk semua wajah, buta semua mata, menjadi kelu semua lesan, dan merasa takut semua hati. Aku jadikan kebaikan mereka didepan mata mereka dan kejahatan mereka di atas telapak kaki mereka, dan setempel Nabi Sulaiman diantara pundak-pundak mereka, sehingga mereka tidak (mampu) mendengar, melihat dan berbicara, berkat kebenaran kaaf haa yaa ‘aiin shaad.
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(3×).
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (3×)
Fasayakfiikahumullooh. Wa huwas-samii’ul ‘aliim (Dibaca 3 x).  Inna waliyyiyalloohulladzii nazzalal kitaaba wahuwa yatawallas-shaalihiin. (Dibaca 3 x)
Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 
Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. 
حَسْبِيَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (7×), بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَجِيدٌ. فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ.
Hasbiyalloohu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim (7 x).  Bal huwa qur-aanum-majiid. Fii lauhimmahfuuzh.  
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung". 
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. 
اَللَّهُمَّ احْفَظْنِى  مِنْ فَوْقِى وَمِنْ تَحْتِى, وَعَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ شِمَالِى وَمِنْ خَلْفِى وَمِنْ أَمَامِى, وَمِنْ ظَاهِرِى وَمِنْ بَاطِنِى, وَمِنْ بَعْضِى وَمِنْ كُلِّى, حُلْ بَيْنِى وَبَيْنَ مَنْ  يَحُولُ  بَيْنِى وَبَيْنَكَ, يَاأَللهُ يَاأَللهُ يَاأَللهُ, وَ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ, وَصَلىَّ الله عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْليمًا.
Alloohummahfazhnii min fauqii wa min tahtii, wa’an yamiinii wa’an syimaalii, wamin khalfii wamin amaamii, wamin zhaahirii wamin baathinii, wamin ba’dhii wamin kullii. Wahul bainii wabaina man yahuulu bainii wabainak. Yaa Allooh, Yaa Allooh, Yaa Allooh, walaa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. Washallalloohu ‘alaa sayyidinaa muhammadinin-Nabiyyill ummiyyi wa’alaa aalihii washahbihii wasallama tasliimaa.
Ya Allah! Peliharalah aku (mulai) dari arah atasku, bawahku, kananku, kiriku, belakangku, depanku, zhahirku, batinku, sebagianku dan keseluruhanku. Jadikan tirai antara aku dan orang  yang membuat tirai anrara aku dan Engkau. Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah! Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Muhammad, seorang Nabi yang buta huruf, beserta keluarga dan para sahabat. 
Hizib 'Izzah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. رَبِّ أَوْقِفْنِى مَوْقِفَ الْعِزِّ وَالْكَمَالِ, وَالْبَهْجَةِ وَاْلجَلاَلِ, حَتَّى لاَ أَجِدَ فِيَّ ذَرَّةً وَلاَ دَقِيْقَةً إِلاَّ وَقَدْ غَشِيَهَا مِنْ عِزِّ عِزِّكِ مَا يَمْنَعُهَا مِنَ الذُّلِّ لِغَيْرِكَ, حَتَّى اُشَاهِدُ ذُلَّ مَنْ سِوَاىَ لِعِزَّتِى بِكَ مُؤَيَّدًا بِرَقِيْقَةٍ مِنَ الرُّعْبِ, يَخْضَعُ لِى بِهَا كُلُّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ, وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ, وَأَبْقِ عَلَيَّ ذُلَّ الْعُبُودِيَّةِ فِى الْعِزَّةِ بَقَاءً يَبْسُطُ لِسَانَ اْلإِعْتِرَافِ, وَيَقْبِضُ لِسَانَ الدَّعْوَى, إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْقَهَّارُ,
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِين وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Rabbi auqifnii mauqifal ‘izzi wal kamaal, wal bahjati wal jalaal, hattaa laa ajida fiyya dzarratan walaa daqiiqatan illaa waqad ghasyiyahaa min ‘izzi ‘izzika maa yamna’uhaa minadz-dzulli lighairika hattaa usyaahida dzulla man siwaaya li’izzatii bika mu-ayyadan biraqiiqatin minar-ru’bi, yakhdha’u lii bihaa kullu syai-thaanim-mariid, wajabbaarin ‘aniid. Wa abqi ‘alayya dzullal ‘ubuudiyyati fil ‘izzati baqaa-an yabsuthu lisaanal i’tiraaf, wa yaqbidhu lisaanad-da’waa, innaka antal ‘aziizul jabbaarul mutakabbirul qahhaar. 
Waqulilhamdu lillaahil-ladzii lam yattakhidz waladan walam yakun lahuu syariikun fil mulki walam yakun lahuu waliyyun minadz-dzulli wakabbir-hu takbiiraa.
Sub-haana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wasalaamun ‘alal mursaliin. Wal-hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.
“Dengan menyebut asma’ Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku! Tempat-kanlah aku pada posisi kemuliaan dan kesempurnaan, keindahan dan keagungan, sehgingga aku tidak menemukan pada diriku satu atom (dzarrah) dan sesuatu yang sangat kecil pun, selain bahwa sebagian dari keluhuran kemuliaan-Mu telah terselimuti oleh kehinaan selain-Mu yang menjadi penghalangnya, sehingga aku menyaksikan kehinaan orang selainku disebabkan kemuliaanku bersama-Mu, dikuatkan dengan halusnya perasaan takut (kepada-Mu), yang dengannya semua syetan yang terkutuk dan orang yang angkuh lagi keras kepala menjadi takluk kepa-daku. Kekalkan sikap merendah dalam beribadah atas diriku dalam kemuliaan/keagungan, suatu kekekalan yang membuat lisan berani menyatakan pengakuan dan mencabut gugatan/dakwaan. Karena Engkau benar-benar Maha Mulia, Maha Perkasa, Maha Sombong lagi Maha Pemaksa.
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. 
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta.
Hizib Zajr
بسم الله الرحمن الرحيم  
آمَنْتُ بِاللهِ, وَاعْتَصَمْتُ بِحَوْلِ اللهِ,  وَتَحَصَّنْتُ بِحِصْنِ اللهِ, وتَوَكَّلْتُ عَلَى الله, وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ, بِاسْمِ اللهِ الْخَالِقِ اْلأَكْبَرِ, وَهُوَ حِرْزٌ مَانِعٌ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ, لاَقُدْرَةَ لِمَخْلُوقٍ مَعَ قُدْرَةِ الْخَالِقِ, يُلْجِمُهُ بِلِجَامِ قُدْرَتِهِ, وَكَانَ اللهُ قَوِيًّا عَزِيْزًا.
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.Aamantu billaah, wa’tashamtu bihaulillaah, watahash-shantu bi hishnillaah, watawakkaltu ‘alallooh, walaa haula walaa quwwata illaa billaah, bismillaahil khaa-liqil akbar, wahuwa hirzun maani’un mimmaa akhaafu wa ahdzaru, laa qudrata limakhluuqin ma’a qudratil khaaliq, yuljimuhuu bilijaami qudratih, wakaanalloohu qawiyyan ‘aziizaa.
“Dengan menyebut asma’ Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Aku beriman kepada Allah. Aku berpegang teguh pada kekuatan Allah. Aku berbenteng (berlindung) dengan benteng Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Besar. Dia adalah Tempat berlindung yang menangkis sebagian apa saja yang aku takuti dan aku khawatiri. Tiada kekuatan /kemampuan bagi makhluk berserta kekuatan Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang memberinya kendali dengan kendali kekuatan-Nya. Allah adalah Maha Kuat lagi Maha Gagah Perkasa.
  
نَحْنُ فِى كَنَفِ اللهِ, نَحْنُ فِى كَنَفِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, نَحْنُ فِى كَنَفِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, نَحْنُ فِى كَنَفِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ,
Nahnu fii kanafillaah, nahnu fii kanafi ra-suulillaah shallalloohu ‘alaihi wasallam, nahnu fii kanafil qur-aanil ‘azhiim, nahnu fii kanafi bis-millaahir-rahmaanir-rahiim.  
Kami didalam naungan Allah. Kami didalam naungan Rasulullah saw. Kami didalam naungan Al Qur’an Yang Agung. Kami didalam naungan ‘Bismillaahir-rahmanir-rahim.
أَلْفُ أَلْفِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى أَكْتَافِنَا نُشِرَتْ. أَلْفُ أَلْفِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى قُلُوْبِنَا حُشِرَتْ. أَلْفُ أَلْفِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى رُؤُوسِنَا نُصِبَتْ. أَلْفُ أَلْفِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ تَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَاعَةِ السُّوءِ إِذَا حَضَرَتْ. أَلْفُ أَلْفِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ دَارَتْ بِنَا سُورًا كَمَا دَارَتْ بِمَدِيْنَةِ الرَّسُولِ,
Alfu alfi laa ilaaha illalloohu muhammadur-rasuululloohi ‘alaa aktaa-finaa nusyirat. Alfu alfi laa ilaaha illalloohu muhammadur-rasuululloohi fii quluubinaa hu-syirat. Alfu alfi laa ilaaha illalloohu muham-madur-rasuululloohi ‘alaa ru-uusinaa nushibat. Alfu alfi laa ilaaha illalloohu muhammadur-rasuululloohi tahuulu bainanaa wabaina saa’atis-suu-i idzaa hadharat. Alfu alfi laa ilaaha illalloohu muhammadur-rasuululloohi daarat binaa suuran kamaa daarat bimadiinatir-rasuul.
Sejuta ‘laa ilaaha illallooh, muhammadur-rasuu-lullah’ terbentang di atas pundak-pundak kami. Sejuta ‘laa ilaaha illallooh, muhammadur-rasuulullah’ terkumpul didalam hati-hati kami. Sejuta ‘laa ilaaha illallooh, muhammadur-rasuulullah’ terpasang diatas kepala-kepala kami. Sejuta ‘laa ilaaha illallooh, muhammadur-rasuulullah’ bila hadir, ia menghalangi antara kami dan saat yang jelek. Sejuta ‘laa ilaaha illallooh, muhammadur-rasuulullah’ mengelilingi kami seba-gai pagar, sebagaimana ia mengelilingi kota Rasulullah, Madinah.
سُبْحَانَ مَنْ أَلْجَمَ كُلَّ مُتَمَرِّدٍ بِقُدْرَتِهِ, سُبْحَانَ مَنْ نَفَذَ فِى كُلِّ شَيْئٍ حُكْمُهُ, وَأَحَاطَ عِلْمُهُ بِمَا فِى بَرِّهِ وَبَحْرِهِ, سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَاءَ نَفْسِهِ, وَزِنَةَ عَرْشِهِ, وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ, وَمَبْلَغَ عِلْمِهِ وَآيَاتِهِ, جَلَّ رَبِّى وَقَدَرَ, عَزَّ رَبِّى وَقَهَرَ, وَاللهُ الْمُعِيْنُ لِمَنْ صَبَرَ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ,
Sub-haana man aljama kulla mutamarridin biqudratih. Sub-haana man nafadza fii kulli syai-in hukmuhu wa ahaatha ‘ilmuhuu bimaa fii barrihii wabahrih. Sub-haanalloohil ‘azhiimi wa bihamdihii ‘adada khalqihii waridhaa-a nafsihii wazinata ‘arsyihii, wamidaada kalimaatihii wa mablagha ‘ilmihii wa aayaatih. Jalla rabbii wa qadar, ‘azza rabbii wa qahar, walloohul mu’iinu liman shabar, wala-dzikrulloohi akbar.
Maha Suci Dzat Yang mengekang setiap orang yang durhaka terhadap kekuasaan-Nya. Maha Suci Tuhan Yang hukum-Nya berlaku pada segala sesuatu, dan Ilmu-Nya meliputi apa saja yang ada di darat-Nya dan di laut-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan Dengan memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, kerelaan Diri-Nya, bobot ‘arasy-Nya, panjang kalimat-Nya, serta batas/akhir ilmu- dan ayat-ayat-Nya. Tuhanku Maha Agung dan Maha Kuasa. Tuhanku Maha Gagah Perkasa dan Maha Memaksa. Allah adalah Penolong orang yang sabar. Ingat kepada Allah sungguh sangat besar.
اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ, وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ, وَاْلهَادِى إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ, صَلاَةً تُفْتَحُ لَنَا بِهَا أَبْوَابُ الرِّضَا وَالتَّيْسِيْرِ, وَتُغْلَقُ بِهَا عَنَّا أَبْوَابُ الشَّرِّ وَالتَّعْسِيْرِ, وَتَكُونُ لَنَا بِهَا وَلِيًّا وَنَصِيْرًا, أَنْتَ وَلِيُّنَا وَمَوْلاَنَا, فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. 
Alloohumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhamma-dinil faatihi limaa ughliq, wal khaatimi limaa sabaq, nashiril haqqi bil-haqq, wal haadii ilaa shiraathikal mustaqiim, wa ‘alaa aalihii washah-bihii haqqa qadrihii wamiqdaarihil ‘azhiim, sha-laatan tuftahu lanaa bihaa abwaabur-ridhaa wat-taisiir, watughlaqu biha ‘annaa abwaabus-syarri wat-ta’siir, watakuunu lanaa bihaa waliyyan wanashiiraa, anta waliyyunaa wa maulaanaa, fani’mal maulaa wani’man-nashiir.
Ya Allah! Limpahkan rahmat ta’zhim kepada junjungan kita Muhaammad, pembuka apayang terkunci, penutup apa yang mendahului, penolong kebenaran dengan kebenaran, penunjuk ke jalan-Mu yang lurus, dan (semoga dilimpahkan) kepada keluarga dan sahabatnya dengan sebenar-benar  kehormatan dan derajatnya yang agung. Yaitu shalawat yang dengan perantaraannya terbukalah bagi kami pintu-pintu ridha dan kemudahan, tertutup dari kami pintu-pintu keburukan dan kesulitan, dan  menjadi pelindung dan penolong bagi kami. Engkau, Ya Allah, Pelindung dan Penolong kami, karena Engkau adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
كَمْ أَبْرَأَتْ وَصِبًا بِاللَّمْسِ رَاحَتـُهُ *
وَأَطْلَقَتْ أَرِبًا مِنْ رِبْقَةِ اللَّمَمِ
مَنْ يَعْتَصِمْ بِكَ يَاخَيْرَ الْوَرَى شَرَفًا *
فَاللهُ حَافِظُهُ مِنْ كُلِّ مُنْتَقـِمِ
وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُولِ اللهِ نُصْرَتُــهُ *
إِنْ تَلْقَهُ اْلأُسْدُ فِى آجَامِهَا تَجِمِ
Kam abra-at washiban billamsi raahatuhuu *
wa-athlaqat ariban min ribqatillalami
Man ya’tashim bika yaa khairalwaraa syarafan *
Falloohu haafizhuhuu min kulli muntaqimi.
Waman takun birasuulillaahi nushratuhuu *
In talqahul usdu fii aajaamihaa tajimi
Berapa saja rehatnya menyembuhkan kelelahan dengan sentuhan dan membebaskan orang yang cerdas dari jeratan dosa
Siapa saja yang berpegang teguh pada kehormatan dengan perantaranmu, wahai sebaik-baik makhluk, maka Allah-lah Yang Memeliharanya dari segala penuntut balas.
Siapa saja yang pertolongannya dengan peran-taraan Rasulullah, jika singa-singa bertemu dengan orang itu di sarangnya, singa-singa itu akan kembali memasuki sarangnya.
  
وَصَلىَّ الله عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Washallalloohu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa aalihii washahbihii wasallama tasliimaa. Sub-haana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wasalaamun ‘alal mursaliin, walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Semoga Allah melimpahkan shalawat (rahmat ta’zhim) dan salam sejahtera kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. 

Hizib Falah

  (حزب الفلاح لشيخ ابي الحسن الشاذلي)

حزب الفلاح

أعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمَا:
- تَوَكَّلْتُ عَلَى الحَيِّ الذِي لا يَمُوتُ (مرتان).
- تَوَكَّلْنَا عَلَى الحَيِّ الذِي لا يَمُوتُ
- وَقُلِ الحَمْدُ للهِ الذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي المُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
- الحَمْدُ للهِ الذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالحَقِّ
- جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ مَا هُوَ أَهْلُهُ (3 مرات)
- رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَكَ أَنْتَ الوَهَّابْ (3 مرات)
- أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (3 مرات)
- بِسْمِ اللهِ الذِي لاَ يَضُرُ مَعَ إسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ (3 مرات)
- سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَةَ إلا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ (3 مرات)
- أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمِ الذِي لاَ إِلَهَ إلاَ هُوَ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيعِ جُرْمِي وَظُلْمِي وَمَا جَنَيْتُهُ عَلَى نَفْسِي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ (مرتان)
- أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمِ الذِي لاَ إِلَهَ إلاَ هُوَ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيعِ جُرْمِي وَظُلْمِي وَمَا شَهِدْتُهُ عَلَى نَفْسِي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
- فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ، يُخْرِجُ الحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الحَيِّ وَيُحْيِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ.
- لاَ إلهَ إلاَ اللهُ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ (9 مرات)
- لاَ إلهَ إلاَ اللهُ شَفِيعُنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
- ثَبِّتْنَا يَااللهُ بِقَوْلِهَا وَارْحَمْنَا يَامَوْلاَنَا بِذِكْرِهَا وَاجْعَلْنَا مِنَ أَخْيَرِ أَهْلِهَا وَاحْشَرْنَا مَعَ الطَّاهِرِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
- ثَبِّتْنَا يَااللهُ بِقَوْلِهَا وَارْحَمْنَا يَامَوْلاَنَا بِذِكْرِهَا وَاجْعَلْنَا مِنَ أَخْيَرِ أَهْلِهَا وَاحْشَرْنَا مَعَ الصَّادِقِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
- ثَبِّتْنَا يَااللهُ بِقَوْلِهَا وَارْحَمْنَا يَامَوْلاَنَا بِذِكْرِهَا وَاجْعَلْنَا مِنَ أَخْيَرِ أَهْلِهَا وَاحْشَرْنَا مَعَ الشَّافِعِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ
- أسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ عَمْدًا وَخَطَئًا سِرًّا وَعَلانِيَةً وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنَ الذَّنْبِ الذِي نَعْلَمُ وَمِنَ الذِي لا نَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلامُ الغُيُوبِ غَفَّارُ الذُّنُوبِ سَتَّارُ العُيُوبِ كَاشِفُ الكُرُوبِ وَأَتُوبُ إلَيْكَ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إلا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ.
- اللَّهُمَ اغْفِرْ لأمَّةِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَ ارْحَمْ أمَّةَ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَ اسْتُرْ أمَّةَ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَ أجْبِرْ أمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِكُلِّ مَنْ آمَنَ بِهِ وَجَمِيعِ المُسْلِمِينَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ.
- أَعْدَدْتُ لِكُلِّ هَوْلٍ لا إلَهَ الا اللهُ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِكُلِّ نِعْمَةٍ الحَمْدُ للهِ، وَلِكُلِّ رَخَاءٍ الشُّكْرُ للهِ، وَلِكُلِّ أعْجُوبَةٍ سُبْحَانَ اللهِ، وَلِكُلِّ ضَيْقٍ حَسْبِيَّ اللهُ، وَلِكُلِّ ذَنْبٍ أسْتَغْفِرُ اللهَ، وَلِكُلِّ هَمٍّ وَغَمٍّ مَا شَاءَ اللهُ، وَلِكُلِّ قَضَاءٍ وَقَدَرٍ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلِكُلِّ مُصِيبَةٍ إنَّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَلِكُلِّ طَاعَةٍ وَمَعْصِيَةٍ لاَ حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إلا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ وَلِكُلِّ بَلاءٍ وَشِدَةٍ اسْتَعَنْتُ بِاللهِ اسْتَعَنْتُ بِاللهِ اسْتَغَثْنَا بِاللهِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمَا، وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ.
- إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَاأيُّهَا الذِينَ أمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمَا.
- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ كَمَا لا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَعَدَّ كَمَالِهِ (24 مرة)
- اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى المُصْطَفَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ كَمَا لا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَعَدَّ كَمَالِهِ
- اللَّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى المُجْتَبَى، سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ هِلالُ الرَّجَاءِ، شَفِيعُنَا وَسَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ سَفِينَةُ النَّجَاةِ، صَلاةً تَكُونُ لَنَا فَرَجًا، وَتَفْتَحُ لَنَا أَبْوَابَ النَّجَاةِ، فَتْحًا قَرِيبًا مُنْفَرِجًا (3 مرات).
- اللَّهُمَ شَفِّعْهُ فِينَا بِجَاهِهِ عِنْدَكَ(مرتان) اللَّهُمَ حَنِّنْهُ فِينَا بِجَاهِهِ عِنْدَكَ يَااللهُ.
- سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ، وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ.

ثم بعد ذلك يأتي دور السبحة وهو ذكر الكلمة الطيبة"لا إله إلا الله" أو دور سيد الشيخ جماعة وجهرا تقسم الجماعة إلى

قسمين بصيغة معينة لدى المريدين البوشيخيين
 
شرح حزب الفلاح

نصــوص الوظيفة الشيخيــــــة: للباحث الدكتور أحمد بن عثمان .

1) إشارات في حزب الفلاح:

هذا مختصر لحزب الفلاح يضم مجموعة من الإشارات وبعض التعليقات وبعض التأصيلات الخاصة بالأذكار الواردة في هذا الحزب المبارك من الوظيفة الشيخية العامة, مع بعض التخريجات المتعلقة بالنصوص الواردة فيه، فأقول وبالله التوفيق،
نقدم للموضوع بمجموعة من الملاحظات والإشارات المفيدة:
= الملاحظة الأولى: يتكون حزب الفلاح من مجموعتين رئيستين:
المجموعة الأولى ـ من بداية الحزب إلى حدود قوله تعالى سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين. هذه المجموعة تتكون بدورها من خمس فقرات على النحو التالي:
الأولى تتكون من بداية الحزب من الآيات الثلاث الأولى: ( توكلت على الحي...)، (وقل الحمد لله...)، (الحمد لله الذي هدانا...)، وتعالج موضوع العقيدة بالأساس.
الثانية تتكون من الدعاء، (جازى الله عنا...) مع الآية الرابعة (ربنا لا تزغ قلوبنا...)وتعالج موضوع الدعاء والشكر وطلب الاستقامة.
الثالثة تتكون من جملتي الاستعاذة وتعالج موضوع الحصانة والاستعاذة بالله من كافة ألوان الآفات والشرور.
الرابعة تتكون من جملتي الاستغفار وتعالج موضوع الاستغفار وأهميته مع ضرورة الإنابة والتسليم.
الخامسة تتكون من الآيتين الأخيرتين وتعالج موضوع الذكر وأهميته.
= المجموعة الثانيةـ وهي مجموعة الأذكار والصلوات الباقية إلى آخر الحزب. وهي أيضا يمكن تقسيمها إلى 3 فقرات على النحو التالي:
الأولى الذكر والدعاء بالكلمة الطيبة في الجملتين الأوليين من المجموعة.
الثانية الاستغفار بلفظ العموم والخصوص في الجملتين الثالثة